Bergesernya Budaya Lisan Berkat Perkembangan Teknologi

Gambar terkaitDulu, saat menulis skripsi tentang Rencana Desain Pusat Studi dan Asosiasi Sastra, aku menemukan sebuah situasi masyarakat yang cukup urgent, yang menjadikan perlunya skripsi itu aku tulis. Situasi apakah itu? Yah. Mungkin anda sudah tahu, bahkan mengalaminya sendiri. ” Masyarakat kita lebih cenderung berbudaya lisan.” Artinya minat baca masyarakat saat itu sangat kurang. Mereka lebih suka menonton bioskop daripada membaca buku. Jika ada film baru, antrian loket bisa sampai panjang seperti ular, tapi kejadian yang sebaliknya jika yang muncul adalah buku baru.

Waktu itu masih awal tahun 2000 an. Internet sudah ada tetapi tidak semarak sekarang.  Saat itu orang pakai internet jika mereka benar-benar butuh, atau benar-benar keranjingan. Jarang ada orang yang punya akses internet sendiri di rumah. Warnet menjadi tujuan online.

Itu dulu. Makanya wajar jika salah satu nara sumber skripsiku berkata bahwa bangsa kita tinggal dalam budaya lisan. Sehingga ketika hendak mendesain sebuah bangunan Pusat Studi Sastra, aku dihadapkan pada sebuah tantangan : apa benar masyarakat akan tertarik dan datang beraktivitas di bangunan itu.

Tapi kini jaman sudah berubah. Rasanya setiap orang sudah punya smartphone. Keberadaan sosial media sudah menjadi sebuah kebutuhan. Membeli kuota internet sama pentingnya dengan membeli beras. Akibatnya, karena kesukaan dalam bersosial media, tanpa sadar orang-orang mulai suka menulis. Mereka menulis apa saja yang ada didalam pikiran mereka. Bahkan jika sehari saja tidak mengupdate status, akan serasa ketinggalan jaman.

Hebat bukan? Kehadiran teknologi komunikasi yang seperti sudah masuk dalam aliran darah manusia itu mampu mengubah manusia dari yang tadinya berbudaya lisan menjadi budaya tulisan. Orang-orang mulai mengungkapkan perasaan dan pikirannya dalam bentuk tulisan. Tidak penting apakah tulisan mereka bermutu atau tidak, dengan gaya dan tata bahasa yang sesuai EYD atau amburadul. Kehadiran tulisan-tulisan mereka di dunia maya telah membutktikan bahwa orang sudah mulai terbiasa membaca dan menulis. Menulis tidak lagi menjadi monopoli kegitan para kaum terpelajar atau orang kantoran. Apalagi ketika dengan mudah bisa mengaskses informasi dan perkembanan terbaru saat ini melalui smartphonenya, orang-orang akan berbondong-bondong menyampaikan pendapatnya melalui tulisan.

Nah, jika anda mampu membaca artikel ini sampai disini, maka saya percaya, anda pun juga suka membaca. Karena saya yakin, tulisan ini terlalu membosanan jika anda seorang penganut budaya lisan. Hehe.. peace.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *